Oleh : Edgar Hamas | @edgarhamas “Akan ada segolongan kecil dari Ummatku, yang terang membela kebenaran, bertindak tegas terhada...
Oleh : Edgar Hamas | @edgarhamas
“Akan ada segolongan
kecil dari Ummatku, yang terang membela kebenaran, bertindak tegas terhadap
musuh-musuhnya, Tidak akan menggoncang mereka siapa-siapa yang membencinya.
Para Sahabat bertanya; Dimana mereka Wahai Rasulullah? Rasul menjawab; Di
Baitul Maqdis, dan tepi-tepi baitul Maqdis” (Al Hadits)
MuslimideOnline- Palestina, adalah sepotong
besar aqidah kita. Mengumandangkan perjuangan membebaskannya, berarti
menyuarakan kesejatian akidah,
dan keutuhan islam kita. Disanalah
negeri para Nabi, yang hadir hidup, berjuang, dan wafat di tanah yang aura
keberkahannya begitu kuat. Jika berjaya
Palestina, berjayalah Kaum Muslimin. Jika terhinakan Palestina, maka
terhinakanlah kaum muslimin, seperti yang kita lihat hari ini. Itu
kaidah yang telah paten tercipta.
Apakah perhatian khusus Nabi Muhammad ketika
Palestina masih dibawah jajahan Romawi? Jawabnya: dalam Sirah
Nabawiyah,
ketika disebut perang Tabuk, perang Mu’tah dan pasukan besar pimpinan Usamah
bin Zaid, kesemuanya adalah masterplan besar Nabi untuk membebaskan
Baitul Maqdis. Dengan kata lain, perjuangan Nabi untuk memenangkan tanah suci
Palestina begitu hebat dan maksimal.
Bahkan sejatinya, pasukan terakhir di kehidupan Nabi yang dipimpin Usamah bin
Zaid adalah pasukan besar berisi sahabat besar menuju tujuan besar; Al-Quds!
Palestina!
Hari ini, pejuang
Palestina sedang dalam keadaan siaga. Perbekalan keimanan dan kekuatan militer
sedang dikembangkan begitu besarnya. Setelah Pejuang Brigade Izzuddin Al-Qassam
memenangkan Perang Furqon, Perang Asfim Ma’kul (Daun
Yang Dimakan Ulat),
lalu Perang Hijar min Sijjil (Batu dari Neraka) saat ini mereka sedang dalam
persiapan maksimal menuju ‘Wa’dul Akhirah’, atau bisa dibilang hentakan
besar-besaran melawan penjajahan Zionis Israel terhadap Palestina.
Sebenarnya, seperti apa
Palestina di benak manusia-manusia hebat ini? Dan bagaimana Rasulullah mendeskripsikan
pentingnya tanah Syam yang disana ada Palestina, Libanon, Suriah, Yordania dan
sebagian Sinai dalam hadits-hadits shahih? Hingga para pejuang tidak kehabisan
ide dan tenaga, bahkan menjadi pasukan hebat yang membuat Penjajah zionis kewalahan? Beginilah
sekelumit pemahaman dari pengetahuan Palestina yang begitu banyak.
***
SYAM NEGERI PENUH
KEBERKAHAN
“Berbahagialah Syam,
berbahagialah Syam, berbahagialah Syam!”, kata Nabi memulai halaqah
beliau suatu hari.
Sahabat bertanya, “Dengan apa Syam berbahagia wahai Rasulullah?”, lalu dengan
lugas Rasul menjawab, “Para Malaikat membentangkan sayap-sayapnya di Syam”.
Al-Izz bin Abdussalam berkata: “Maksudunya
adalah,
bahwa Allah dan para Malaikat memberkahi juga merahmati tanah Syam.”
Tanah Syam, yang
hari ini terdiri dari Palestina, Suriah, Libanon dan Yordania begitu penting
bagi Nabi, juga menempati posisi khusus di hadapan Allah. Itulah mengapa
keberkahannya nyata. Tumbuh-tumbuhan hidup, udara yang sejuk, lembah dan
bukit-bukit subur yang indah, dan letak geografis yang sangat-sangat berharga
bagi mereka yang ingin memenangkan pengaruh geopolitik.
Hadist dari Abdullah
bin Hawwalah, bahwasanya Rasul bersabda; “Di malam Isra’, aku melihat tiang
berwarna putih seperti mutiara, dibawa oleh para Malaikat. Aku bertanya, Apa
yang kalian bawa?”. Para Malaikat menjawab, “Tiang Islam, Kami diperintahkan
untuk meletakkannya di Syam.”
Al-Izz bin
Abdussalam menjelaskan, “Nabi mengabarkan bahwa tiang Islam, yaitu Iman, berada
di Syam ketika zaman muncul banyak fitnah. Maknanya; Ketika muncul
banyak fitnah pada umat ini, penduduk Syam tetap teguh memegang Iman mereka.”
SYAM NEGERI MAHSYAR
SELURUH MANUSIA
Dari hadits Bahz bin
Hakim bin Muawiyah Al-Qusyairi dari Ayahnya dari Kakeknya, berkata; “Wahai
Rasulullah, kemana engkau memerintahkanku untuk bermukim?” kemudian Rasul
menjawab, “Kesana”, dan tangan beliau menunjuk ke arah Syam, “Sesungguhnya
kalian akan digiring menuju kesana (mahsyar) dalam keadaan berjalan kaki dan
berkendara serta berjalan diatas wajah kalian.”
Kemudian ayat Qur’an
surat Qaaf ayat 41, menjelaskan
وَاسْتَمِعْ يَوْمَ
يُنَادِ الْمُنَادِ مِنْ مَكَانٍ قَرِيبٍ
“Dan dengarkanlah
(seruan) pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat.”
Para Mufassir
menafsirkan bahwa yang dimaksud “tempat yang dekat” adalah Shakhrah, yang berada
di Masjid Al-Aqsha. Dengan kata lain, Malaikat Israfil akan memanggil manusia
menuju mahsyar di atas As-Shakhrah
Masjid Al-Aqsha, dan Syam itu sendiri menjadi Padang Mahsyar.
Al-Ahwadhi berkata,
“Tempat dikumpulkannya manusia berada di sebuah tanah suci di Syam, Allah
mengumpulkan seluruh jiwa disana, maka itulah padang Mahsyar.”
SYAM NEGERI
KECINTAAN PARA NABI
Dalam Kitab Mu’jam
Al-Buldan, termaktub bahwa Ibnu Abbas pernah berkata, “Baitul Maqdis
dibangun oleh para Nabi, dijadikan tempat bermukim para Nabi, dan tidaklah
satupun jengkal di Baitul Maqdis melainkan telah menjadi tempat Sholat para
Nabi dan tempat berdirinya para Malaikat.”
Para Nabi bergerak
dan berjalan menuju Tanah Palestina, ia adalah tanah yang berkah, Negeri para
Nabi, Negeri tegaknya agama Islam, dan negeri saksi peradaban dari Nabi Adam
a.s hingga hari kiamat.
SYAM NEGERI YANG
DIDOAKAN NABI
Rasulullah bersabda,
“Ya Allah berkahilah Syam kami, Ya Allah berkahilah Yaman kami, Ya Allah
berkahilah Najd kami.”
Al-Izz bin Abdussalam menjelaskan, “Ketika Rasulullah mendoakan keberkahan
Syam, lalu baru kemudian Yaman, menunjukkan bahwa keutamaan Syam atas Yaman.”
POHON DI SYAM
SEPERTI POHON DI SURGA
Dari hadits Utbah
bin Abdissalmi berkata, seseorang badui datang kepada Rasulullah SAW dan
bertanya, “Apakah di Surga ada buah?”
Lalu Rasulullah
menjawab, “Betul, dan di dalamnya pula ada sebuah pohon Thuba (kebahagiaan) dan
ia berada di Surga Firdaus.”
Kemudian Si Badui
bertanya lagi, “Di bumi ini adakah pohon yang menyerupainya?”
Lalu Rasul menjawab,
“Di
bumi ini tidak ada pohon seperti itu, namun apakah engkau pernah datang ke
Syam?”
“Belum wahai
Rasulullah”, jawab Si Badui.
Maka Rasulullah
berkata, “Sesungguhnya ada sebuah pohon yang mirip dengannya di Syam yang
disebut Al-Jauzah, tumbuh dengan satu batang, lalu tumbuh diatasnya
cabang-cabang yang banyak.”
MUADZIN MASJID BAITUL
MAQDIS DIDAHULUKAN MASUK SURGA
Dari Jabir r.a,
bahwasanya seorang lelaki datang menemui Rasulullah dan bertanya, “Wahai Rasulullah,
siapakah yang akan pertama kali masuk ke Surga?”. “Para Nabi”, jawab
Rasulullah. “Lalu siapa?”, “Para Syuhada”. “Lalu siapa?”, “Muadzin Masjid
Al-Haram”. “Lalu siapa?”, “Muadzin Masjid Baitul Maqdis”. “lalu
siapa?”,”Muadzin masjidku ini”. “Lalu siapa?”, “Seluruh muadzin masjid-masjid
sesuai dengan kadar amalan mereka.”
Dan hingga saat ini,
ada sebuah sejarah besar yang mesti dibuka tabirnya. Bahwasanya Bilal bin Rabah
tidak hanya mengadzani Masjid Nabawi dan Masjid Al-Haram. Ketika Umat Islam di bawah
pimpinan Umar Bin Khattab membebaskan Masjid Al-Aqsha, maka Bilal bin Rabah
menjadi Muadzin pertamanya setelah sekian lama beliau tidak mau adzan disebabkan selalu
menangis dan mengingat Nabi. Dan di hari pembebasan Tanah Al-Quds, Bilal bin
Rabah adalah muadzin pertama masjid itu. Subhanallah!
***
SIAPA PEMBEBAS PALESTINA?
Dalam sebuah dialog
yang diampu oleh Ustadz Azhari Suhaemi sebagai Bidang Edukasi KNRP Pusat,
beliau menerangkan tentang sebuah fakta sejarah, bahwa pembebas Al-Aqsha dalam
sejarah kaum Muslimin tidak pernah dilakukan oleh orang-orang di dalam
Palestina.
Umar bin Khattab,
Khalifah pembebas Palestina, adalah bagian dari Bani Adi, orang Quraisy yang
memimpin pasukan Muslimin bangsa Arab
membebaskan gerbang Palestina, dan beliau bukan orang Palestina.
Nuruddin Zanki,
inisiator pembebas Al-Quds pasca dijajah pasukan Salib, bukanlah orang Arab,
melainkan keturunan Bangsa Turki, lalu mengadakan agenda jihad yang fenomenal
sehingga memutus rantai kekuasaan Penjajah Salib di beberapa wilayah penting di
Syam.
Shalahuddin
Al-Ayyubi, pembebas Al-Quds yang memenangkan Pertempuran Hattin 1187 Masehi
bukanlah orang Palestina, bukan pula orang Arab. Beliau lahir di Benteng Tikrit
di Iraq, keturunan Suku Kurdi. Meneruskan perjuangan Nuruddin Zanki, beliau
berhasil membuka kembali gerbang Al-Quds setelah 88 tahun dibawah jajahan
Pasukan Salib sejak 1099 M.
Lalu, Siapakah
Pembebas Palestina di masa depan nanti?
Mari membahas hadits
Nabi Muhammad SAW, “Kamu sekalian akan membunuh yahudi, kalian berada di timur
sungai, dan mereka berada di barat sungai”. Dari hadits yang disampaikan
Nabi Muhammad ini, ada sebuah fakta unik yang sangat menarik untuk ditelisik.
Dimana barat sungai? Dan dimana timurnya?
Seperti kita tahu,
di Palestina kita mengenal sebuah wilayah besar Palestina yang disebut sebagai ‘Dhuffah
gharbiyah’ atau West Bank dalam bahasa Inggris, dan ‘Tepi Barat’
dalam bahasa Indonesia. Wilayah itu adalah daerah yang berbatasan langsung
dengan Yordania. Dan disanalah Masjid Al-Aqsha berdiri.
Yang menarik adalah
penamaan tepi barat, daerah itu dinamakan ‘Tepi barat’ karena ia berada di
sebelah barat Sungai Yordan. Begitu nyata hadist yang disampaikan Rasulullah
dan dikaji hari ini di dunia nyata. Lalu, dengan logika sederhana mari mengambil
pemahaman dari maksud Nabi Muhammad, bahwa saat pembebasan Al-Aqsha, Zionis
Israel akan bermarkas di Tepi Barat, lalu Kaum muslimin berada di ‘timur
sungai’.
Memaknai ‘timur
sungai’ berarti tanah yang berada di timur sungai Yordania, jika meluaskan
definisi itu, berarti segala negeri di timur Palestina adalah bisa jadi
termasuknya. Seperti itulah yang dijelaskan dalam dialog edukasi itu.
Jika, bangsa Arab
telah membebaskannya, bangsa Turki telah membebaskannya, Bangsa Kurdi telah
membebaskannya, maka saat era depan pembebasan Al-Aqsha bukan tidak mungkin
adalah saat Asia memasuki eranya yang lebih perkasa, lalu negeri-negeri
timurlah yang menjadi pelaku pembebasan Palestina. Karena masa kepemimpinan
Allah pergilirkan, dan setiap peradaban telah mengecap keberhasilan pembebasan
Palestina, maka bisajadi kesempatan untuk membebaskan Palestina di masa depan
muncul dari negeri-negeri
Timur.
Dan Indonesia
menjadi bagian pembebasannya.
Inilah sekelumit Nubuwwat Nabi Muhammad
tentang betapa pentingnya Palestina dan bahkan Al-Qur’an dan hadits Nabi telah
memberitakan letak-letak peristiwa penting yang akan terjadi di hari depan
Palestina sebagai jantung Umat Islam sedunia. Maka tidak sangsi, jika Syaikh Ahmad
Ali Muqbil sebagai Ketua Dewan Ulama Palestina Yaman berkata, “Palestina adalah
sepotong besar aqidah kita!”
