Oleh : Edgar Hamas | @edgarhamas Muslimide Online - Membicarakan Masjid Al-Aqsha adalah menelusuri sejarah yang sangat mengesan...
Oleh : Edgar Hamas | @edgarhamas
MuslimideOnline- Membicarakan Masjid
Al-Aqsha adalah menelusuri sejarah yang sangat mengesankan. Sejarah dimana
banyak peradaban datang kesana dan bermukim lama, berlayar menyusuri
rantai-rantai sejarah yang talik ulur saling menyambung, lalu menemukan fakta
luar biasa dan mencengangkan; bahwa benarlah kata Ibnu Abbas. “Baitul Maqdis
itu dibangun oleh para Nabi, tempat tinggal para Nabi. Tiada satupun jengkal tanah
disana, kecuali telah menjadi tempat shalat para nabi atau tempat berdirinya
malaikat.”
Pada tulisan kali
ini, kita akan membahas bukan sekadar Masjid Al-Aqsha saja secara umum.
Alhamdulillah, dilengkapi dengan banyak literatur, kini kita akan menelisik
keindahan dan keutamaan jantung Al-Aqsha, dimana Nabi Muhammad menapakinya
sebelum naik ke langit, dimana Umat Islam berkiblat selama 16 bulan, dimana
Bani Israil di masa Nabi Yusya juga berkiblat ke arahnya, menjadikannya symbol
ibadah yang begitu sakral. Mari mengenal jantung Al-Aqsha; Batu Shakhrah.
APA ITU SHAKHRAH?
Shakhrah adalah batu
yang berada di tengah-tengah Masjid Al-Aqsha, saat ini berada di dalam Kubah
As-Sakhrah yang berwarna emas. Batu ini bukanlah batu yang biasa, karena begitu
banyak riwayat yang menjelaskan tentangnya. Sebelumnya, kita juga mesti
mengetahui bahwa Masjid Al-Aqsha dibangun di atas bukit bernama bukit Moriah,
dan puncak bukit inilah yang dinamakan shakhrah, tempat berpijak Nabi Muhammad
sebelum melakukan mi’raj ke langit.
Dalam sebuah hadist,
Rasulullah bersabda, “صليت ليلة اسري بي عن يمين الصخرة”, yang artinya : Aku shalat pada malam
Isra’ di sebelah kanan shakrah. Apa saja penjelasan Shakhrah dalam riwayat
sejarah dan mengapa ia disebut sebagai jantung Masjid Al-Aqsha? Berikut
pernyataannya.
MALAIKAT ISRAFIL
AKAN MENIUP SANGKAKALA DI ATAS SHAKHRAH
وَاسْتَمِعْ يَوْمَ يُنَادِ الْمُنَادِ مِنْ مَكَانٍ قَرِيبٍ
Dan
dengarkanlah (seruan) pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang
dekat. (Qaaf : 41)
Para
mufassir menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan ‘Penyeru’ adalah Malaikat
Israfil, sedangkan makna ‘tempat yang dekat’ adalah Shakhrah Baitul Maqdis.
Secara nyata ayat ini telah menunjukkan bagaimana posisi shakhrah nanti di
akhir zaman, ia jadi tempat Malaikat Israfil menyeru manusia menuju padang
Mahsyar, yaitu negeri akhir zaman, Palestina.
SHAKHRAH
BERASAL DARI SURGA
قال أنس
بن مالك: ( إن
الجنّة تحن شوقاً إلى بيت المقدس وصخرة بيت المقدس من جنة الفردوس وهي ُصرّة
الأرض)
Anas bin Malik bekata, “Sesungguhnya Surga merindukan Baitul
Maqdis, Shakhrah Baitul Maqdis berasal dari Surga, dan ia adalah pusat bumi”
Pernyataan Anas bin Malik ini menunjukkan bahwasanya ada dua batu
surga yang diturunkan ke bumi ini, yaitu Hajar Aswad di Makkah, dan Shakhrah di
Baitul Maqdis.
SHAKHRAH ADALAH BAGIAN TERSUCI DI BAITUL
MAQDIS
قال ثور بن زيد: (
قدس الأرض الشام وقدس الشام فلسطين وقدس فلسطين بيت المقدس وقدس بيت المقدس الجبل وقدس الجبل المسجد وقدس المسجد الصخرة
).
Dari Tsaur bin Zaid, seorang Tabiin,
beliau berkata, “Bagian tersuci bumi adalah Syam, bagian tersuci Syam adalah
Palestina, bagian tersuci Palestina adalah Baitul Maqdis, bagian tersuci baitul
Maqdis adalah bukit (tempat Al-Aqsha berada), bagian tersuci bukit adalah
Masjid, dan bagian tersuci dari Masjid Al-Aqsha adalah Shakhrah”
Dikatakan juga dalam Kitab Fathul
Bari, berkata Abdur Razzaq dari Nu’man bin Al-Mundzir dari Wahb bin Munabbih,
bahwasanya beliau berkata, “Allah berfirman kepada Shakhrah Baitul Maqdis; Akan
Aku letakkan Arsy-ku di atasmu dan akan Aku kumpulkan seluruh ciptaan-Ku di
atasmu”
SHAKHRAH TEMPAT PARA NABI MEMBUAT
MASJID
Syaikh Muhammad Ath-Thahir bin Asyur,
sebagaimana tersebutkan dalam Kitab Qabl Al-Karitsah Nadzir wa Wafir, beliau berkata, “Sesungguhnya para pakar
sejarah bangsa Ibrani menyatakan bahwa pegunungan yang menjadi tempat
bermukimnya Nabi Ibrahim yang masuk wilayah Kan’aan bernama Nabu. Inilah
pegunungan yang menjadi tempat Nabi Sulaiman mendirikan masjidnya yang kemudian
dikenal dengan nama As-Shakhrah.” (lihat, Qabl Karitsah, Abdul Aziz bin
Al-Musthafa, hlm. 82)
SHAKHRAH DAN MIMPI NABI YA’KUB
Dalam kitab Al-Bidayah wa Nihayah
karangan Ibnu Katsir, disebutkan bahwa suatu malam nabi Ya’kub melakukan sebuah
perjalanan beliau kelelahan dan tertidur di tempat tersebut seraya menyandarkan
kepalanya pada sebuah batu. Lalu beliau tertidur pulas, seketika itu pula
beliau bermimpi melihat tangga yang memanjang dari langit ke bumi, dan ketika
itu pula Malaikat turun dengannya.
Setelah itu beliau terbangun dan
bergembira, lalu bernazar kepada Allah jika beliau pulang ke keluarganya dalam
keadaan selamat, maka beliau dan keluarganya akan membuat sebuah masjid di atas
tempat beliau bermimpi itu. Setelag itu, beliau meletakkan sebuah tanda
sederhana di tempat beliau bermimpi berupa sebuah batu agar bias dikenalinya di
kemudian hari.
Ibnu Katsir berkomentar, “inilah
Baitul Maqdis, yang direnovasi Nabi Sulaiman bin Dawud alaihimassalam. Inilah
tempat batu besar yang dijadikan tanda olehnya setelah bangun dari tidurnya,”
(Al-Bidayah wa An-Nihayah)
NABI YUSYA MENDIRIKAN KUBAH DI ATAS
SHAKHRAH
Setelah membebaskan Baitul Maqdis
bersama Bani Israil yang sholih, Nabi Yusya bin Nuun, murid Nabi Musa
alaihissalam membangun masjid yang kelak digunakan untuk tempat beribadah bani
Israil. Dalam Tafsir Ibnu Katsir dikatakan bahwa, “Ketika merasa nyaman berada
di Baitul Maqdis, maka Yusya’ bin Nuun mendirikan kubah di atas batu besar di
baitul Maqdis. Merekapun mengerjakan shalat dengan menghadapnya. Ketika kubah
tersebut hancur, maka mereka shalat ke arah tempatnya, yaitu As-Sakhrah atau
batu besar.”
“Karena itulah”, tulis DR. Fathi
Zaghrut dalam bukunya ‘An-Nawazil fi Tarikhil Islam’, “Qubbah As-Shakrah ini
menjadi kiblat para Nabi hingga pada masa Rasulullah sebelum hijrah.”
Hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu
Katsir juga disebutkan oleh Imam Bukhari dalam Kitab Shahihnya dalam
menafsirkan Surat Al-Baqarah menyebutkan bahwa, “Ketika merasa nyaman berada di
baitul Maqdis, maka kiblat diarahkan ke batu besar di Baitul Maqdis”
Begitulah riwayat dan literatur yang
menjelaskan kedudukan Shakhrah dalam sejarah Islam. Ia menjadi simbol kiblat
yang begitu menyejarah, lama dan bernilai tinggi. Sebab nabi-nabi sebelum
Muhammad, bahkan juga termasuk Nabi Muhammad pernah berkiblat ke Baitul Maqdis,
tepatnya ke batu besar bernama As-Shakhrah ini.
Rasulullah Muhammad bersama para
shahabatnya sholat menghadap As-Shakhrah di Masjid Al-Aqsha selama 16 bulan,
atau ada yang mengatakan 17 bulan, hingga kemudian Allah memerintahkan kiblat
berpindah ke Ka’bah, tepatnya pada bulan Sya’ban pada waktu ashar. Ada pula
yang mengatakan pada waktu zuhur.
PENUTUP;
MASJID AL-AQSHA TETAPLAH KIBLAT JIHAD PERTAMA DAN UTAMA
Setelah
kita mengetahui bagaimana kedudukan kiblat pertama kita, dan menelusuri
sejarahnya, kita mesti memahami bahwa fenomena hari ini, Al-Aqsha masih dalam
jajahan Zionis Israel dan menuntut Umat Islam sedunia untuk bersatu
membebaskannya.
Ka’bah
saat ini kiblat shalat kita, disana kita menyatukan pandangan dan menujukkan
persatuan kita, menuju tempat yang satu, berkumpul di tempat yang satu. Namun,
walaupun kini Al-Aqsha bukan lagi kiblat shalat kita, ia telah, tetap dan akan
selama-lamanya menjadi kiblat jihad pertama dan utama bagi saenteri Umat Islam
sedunia, sebagaimana dijelaskan dengan indah oleh Rasulullah Muhammad dalam
untaian perkataannya :
" لا تزال طائفة من أمتي على الحق ظاهرين لعدوهم قاهرين لا
يضرهم من خالفهم إلا ما أصابهم من لأواء حتى يأتيهم أمر الله وهم كذلك قالوا يا
رسول الله وأين هم ؟ قال: ببيت المقدس وأكناف بيت المقدس "
“Senantiasa ada sekelompok orang dari umatku yang meperjuangkan kebenaran . Mereka menang melawan musuhnya dan orang yang menentang mereka tidak
membuat mereka gentar , kecuali jika mereka ditimpa oleh
musibah penyakit , hingga datang
keputusan Allah , sementara mereka masih
dalam keadaaan seperti itu. Para sahabat berkata : ‘ Lalu di mana mereka
berada wahai Rasulullah ?’ Beliau berkata : ‘ Baitul Muqoddas dan
Naungan Baitul Muqoddas’
Referensi :
·
Tafsir Ibnu Katsir
·
Al-Bidayah wa An-Nihayah, Ibnu Katsir
·
An-Nawazil fi tarikh Al-Islam, DR. Fathi Zaghrut
·
Qabl Karitsah,
Abdul Aziz bin Al-Musthafa
·
منسق عام شباب لأجل القدس, حسام عمر الغالي
·
إسـلامية فلسطين , الشيخ/ علي أحمد مقبل
