Oleh : Ilham | @ilhamfaqath Muslimide Online - Diriwayatkan dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW pernah bersabda, “ada dua nikmat...
Oleh : Ilham | @ilhamfaqath
MuslimideOnline -Diriwayatkan dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW pernah
bersabda, “ada dua nikmat yang kebanyakan orang lupa terhadap keduanya, yakni
kondisi sehat dan waktu luang.” Betapa banyak nikmat yang telah diturunkan Allah
SWT kepada para hamba-Nya, namun dua nikmat yang disebutkan di dalam hadits di
atas sering kali dilupakan dan sangat sedikit yang mensyukurinya.
Nikmat sehat adalah nikmat yang sangat luar biasa.
Karenanya kita bisa melakukan segala aktivitas, baik itu yang bersifat duniawi
seperti bekerja, mencari penghidupan, bertamasya dan lain sebagainya, maupun
yang bersifat ukhrawi seperti shalat, puasa, zakat dan hal-hal lain yang
mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Namun hanya sebagian kecil dari kita yang mensyukurinya.
Mungkin sekarang belum terasa, tapi ketika sakit menimpalah baru tersadar
betapa indahnya sehat dan menyesal kenapa kita dulu tidak mensyukuri dan
menggunakan nikmat sehat dengan sebaik-baiknya. Jika segala nikmat yang telah Allah
SWT turunkan termasuk sehat kita
syukuri, niscaya Allah akan menambah nikmat tersebut dan tidak akan mencabutnya.
Sebagaimana yang termaktub di dalam al-Quran surat ibrahim ayat 7 dan surat al
anfaal ayat 53.
Oleh karenanya jagalah selalu kesehatan, syukuri itu agar
Allah tidak mencabut nikmat sehat tersebut dari diri kita. Sehat itu mahal
harganya. Lebih baik menjaga daripada mengobati. Tidak masalah membayar sedikit
untuk sekadar perawatan dan pemeriksaan dari pada mengobati atau bahkan operasi
yang pasti biayanya lebih mahal. Ingat, di dalam sebuah hadits dikatakan
bahwasanya mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah SWT
daripada mukmin yang lemah.
Selanjutnya waktu luang. Apalagi sebagian besar dari
pemuda memiliki waktu luang lebih besar. Maka manfaatkanlah sebaik-baiknya
dengan melakukan hal-hal positif. Itulah cara mensyukuri waktu luang yang
dianugerahkan Allah SWT. Setelah melakukan suatu pekerjaan, pindahlah ke
pekerjaan berikutnya, sesuai dengan firman Allah dalam surat al insyirah ayat
7.
Waktu luang yang diisi dengan seabrek aktivitas harus dibarengi dengan manajemen yang baik
agar aktivitas yang kita lakukan guna mengisi waktu luang memberikan efek atau
dampak bagi diri kita, tidak hanya sesaat tapi efek jangka panjang.
Manajemen waktu tersebut dibagi atas empat: penting
mendesak, penting tidak mendesak, tidak penting mendesak, tidak penting tidak
mendesak. Dua perkara terakhir sudah pasti dan harus ditinggalkan karena ia
tidak penting. Yang menjadi pembahsan dan persoalan adalah dua hal yang pertama.
Sekilas ketika pertama kali ditanya mana yang akan
dipilih, “penting mendesak” atau “penting tidak mendesak.” Sebagian besar orang
tanpa berpikir panjang mungkin akan menjawab “penting mendesak.” Ternyata
jawaban ini salah. “Penting tidak mendesak”-lah yang mesti diprioritaskan.
Kenapa demikian? Mari kita lihat satu persatu.
Jika penting mendesak yang kita dahulukan, maka kehidupan
kita hanya akan berjalan seputar masalah-masalah kecil yang hanya berefek
sesaat kepada kehidupan kita seperti makan ketiak lapar, masak ketika jadwalnya
piket, mandi, mencuci pakaian dan hal-hal semisalnya.
Namun jika yang kita proritaskan penting tidak mendesak,
ini memiliki efek jangka panjang. Misal hafal sekian juz al-Quran, hafal sekian
puluh hadits, mengerti cara mengoperasikan komputer, ikut seminar kepemimpinan,
belajar cara mengajar yang baik dan sebagainya. Hal-hal tersebut mungkin semasa
kita muda atau masih menjadi mahasiswa belum dibutuhkan. Tapi yakinlah kelah
kita akan sangat membutuhkannya di masa yang akan datang ketika memasuki dunia
kerja.
Mungkin kelak kta akan menjadi guru, maka butuh kemampuan
dalam hal mengajar yang baik. Bisa jadi kelak kita memiliki perusahaan sendiri,
maka harus memiliki skill yang mumpuni dalam memimpin dan mengayomi bawahan. Atau
mungkin menjadi pegawai kantoran, maka harus mengerti segala yang berkaitan
dengan komputer dan seterusnya. Begitulah perbandingannya. Maka jelaslah bahwa
“penting tidak mendesak” lebih
diprioritaskan karena dampaknya tidak hanya sesaat tapi juga dampak jangka
panjang.
Terakhir, ingatlah selalu bahwa segala apa yang kita
miliki adalah miliknya Allah SWT, maka sudah merupakan kewajiban bahkan
kebutuhan kita untuk mensyukurinya agar nikmat-nikmat tersebut tidak Allah
cabut dari diri kita.
