Oleh : Ilham Martasyabana Muslimide Online - Situasi setelaah perjanjian Hudaibiyah akhir tahun enam hijriyah (H) membuat Madin...
Oleh : Ilham Martasyabana
MuslimideOnline-Situasi setelaah perjanjian Hudaibiyah akhir tahun
enam hijriyah (H) membuat Madinah bisa berkonsentrasi untuk dakwah di utara. Rasulullah
ﷺ ﷺ juga berencana agar dakwah Islam
bisa diterima para raja dunia kala itu. Oleh sebab itu beliau hendak
mengirimkan utusan-utusan yang akan mengirimkan surat dakwah beliau ke para
raja. Sebelum itu, Rasulullah ﷺ juga
mengingatkan para sahabatnya tentang sejarah sahabat-sahabat Nabi Isa
alaihissalam, di mana jika mereka diutus Nabi Isa ke kaum yang dekat mereka
(sahabat Isa) senang, tetapi jika diutus ke kaum yang jauh dari negerinya
mereka menerima dengan rasa enggan. Tentu Rasulullah ﷺ tidak mau para sahabatnya mengulang hal yang sama seperti yang
diterima putra Maryam binti Imran tersebut.
Di lain pihak, Romawi dan Persia sedang ramai-ramainya
berperang satu sama lain, sejak delapan tahun sebelum bi’tsah (kenabian Rasulullah
ﷺ) atau bertepatan dengan tahun 602 M. Tentu benturan antar dua
adidaya seperti Romawi dan Persia dampak serta pengaruhnya jauh lebih besar
ketimbang peperangan antar suku layaknya di jazirah Arab. Bangsa Arab menjadi
penonton saja ‘tubrukan’ dahsyat dari dua imperium raksasa di masanya itu.
Pada dasarnya dua imperium ini sedang memperebutkan
gelar adidaya sejati, selain memperebutkan hegemoni di Yaman, Mesir, Syam,
Anatolia, Laut Mediterania hingga Laut Aegea. Bahkan kaum Quraisy sempat
mengajak bertaruh tokoh kaum Muslimin Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk menentukan
siapa yang menang dari kedua pertempuran tersebut. Perkiraan terjadinya
peristiwa tersebut adalah di fase dakwah jahriyah Makkah, mungkin sekitar tahun
4-6 bi’tsah, atau bertepatan sekitar tahun 614-616 M. Saat Persia dan
Romawi sedang mengalami puncak eskalasi. Persia sempat memenangkan pertempuran
dan merebut banyak wilayah Romawi. Al-Qur’an dalam surat Ar-Rum ayat 2-4
mengisahkan kemenangan musyrik Persia atas Ahli Kitab Romawi Byzantium. Menurut
riwayat Ath-Thabari dalam kitab tafsirnya Jami’ Al-Bayan dan disebutkan pula
oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, sahabat Ibnu Mas’ud RA
meriwayatkan ketika surat Ar-Rum ini turun. Pembesar Quraisy berkata kepada Abu
Bakar bahwa Muhammad menjanjikan kemenangan Romawi setelah beberapa tahun. "Telah
Dikalahkan bangsa Romawi. Di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu
akan menang (atas Persia), dalam beberapa tahun lagi" (QS Ar-Rum: 2-4)
Tentu saja kaum Quraisy menyangsikannya dan merasa sombong atas kemenangan
imperium yang se-aqidah dengan mereka (Persia). Abu Bakar pun membalas
pernyataan itu kepada para pembesar Quraisy bahwa tidak lama lagi Romawi akan
betul-betul mengalahkan Persia. Dalam hal ini kaum Quraisy memang berpihak
kepada Persia lantaran kesamaan keyakinan: sama-sama penyembah berhala,
sedangkan kaum Muslimin lebih memihak Romawi karena Romawi adalah Ahli Kitab
meskipun keduanya sama-sama kaum kafir. Persia kafir dalam kemusyrikan,
sedangkan Romawi kafir Ahli Kitab.
Quraisy makin senang lantaran tujuh tahun kemudian
sejak dialognya dengan Abu Bakar, Romawi belum mampu pula mengalahkan Persia,
maka saat bertemu Abu Bakar dan kaum Muslimin, Quraisy semakin pongah. Tetapi Rasulullah
ﷺ menyatakan bahwa mintalah penangguhan dua tahun lagi,
"beberapa tahun" yang dijanjikan ayat tersebut, menurut Rasulullah
ﷺ bermakna kurang dari 10 tahun. Oleh karena itu pengertian
“beberapa tahun” adalah 2-9 tahun. Benar saja, dua tahun kemudian Romawi pun
berhasil mengalahkan Persia saat genap 9 tahun setelah kekalahan Romawi tadi.
Dari uraian itu jika awalnya dialog tersebut terjadi
pada sekitar 614-616 M, lalu perjanjian Hudaibiyah terjadi kurang lebih tiga
belas tahun kemudian, berarti situasi politik dunia saat itu Romawi baru saja
memenangkan pertempuran merebut Syam dari Persia. Di mana menurut riwayat
sejarahnya, perayaan kemenangan itu ditandai dengan berjalan kakinya Kaisar
Romawi Heraclius ke kota suci Yerussalem. Markas Heraclius di negeri Syam
sendiri berada di kota Hims (Homs/Emessa). Maka wajar saja jika dalam
riwayat-riwayat hadits dan sirah Nabawiyah, Heraclius yang semasa dengan Rasulullah
ﷺ sering kali berada di Syam bukan di Konstantinopel. Pengiriman
surat dakwah Rasulullah ﷺ ke Heraclius kelak akan merubah
sejarah Islam maupun Romawi untuk selama-lamanya. Hal itu berawal dari stigma.
Wacana dan kekuasaan dari perspektif Foucauldian itu
bisa kita fungsikan ketika adanya stigma dari Romawi. Bermula ketika Rasulullah
ﷺ mengutus Al-Harits bin Umair Al-Azdi ke Bashrah daerah yang
termasuk wilayah Romawi. Padahal kala itu Al-Harits berstatus sebagai utusan
Madinah. Wacana “negara adidaya Kristen yang tidak boleh diganggu gugat” dalam
wilayah Romawi sudah demikian berkuasa di Romawi. Bukan hanya di wilayah inti
Romawi namun juga negeri-negeri satelitnya yang dikuasi Nasrani Arab loyalis
Romawi. Bagi mereka pengutusan seorang Al-Harits ke wilayah mereka untuk
mendakwahkan agama yang bertentangan dengan Kristen, itu adalah sebuah dosa
besar. Bahkan pembunuhan ini menjadi satu-satunya pembunuhan utusan Rasulullah ﷺ dalam rentang perjanjian Hudaibiyah hingga Fathul Makkah.
Betapa pun zhalimnya seorang Kisra penguasa Persia, ia tidak sampai membunuh
utusan Madinah. Sedangkan Syurahbil bin Amr Al-Ghassani pemimpin suku Ghassan,
bawahan Romawi, nekat membunuh utusan Madinah.
Nampaknya pembunuhan ini awalnya merupakan inisiatif
Syurahbil pribadi kendati Romawi ternyata menyetujui tindakannya. Terbukti
dengan adanya perang Mu’tah bulan Jumadil Awal tahun 8 H, di mana Romawi dan
suku-suku Arab Nasrani membentuk pasukan raksasa untuk membunuh para mujahidin
Islam. Padahal pengiriman 3000 mujahidin Islam itu adalah sebagai qishash
atau hukuman atas terbunuhnya Al-Harits. Pembunuhan utusan ini bagi pihak
Romawi dianggap sebagai ancaman laten yang merepresentasikan kekuatan ideologi
baru, yakni kekuatan Islam.
Utusan-utusan ke Romawi sebelumnya yakni Dihyah bin
Khalifah Al-Kalbi ke Heraclius dan Syuja’ bin Wahb ke suku Ghassan. Nampaknya
juga telah memancing kemarahan pembesar Kristen kala itu. Lagi pula bagi pemimpin
Ghassan Al-Harits bin Abu Syamr Al-Ghassan dan setidaknya bagi para pembesar
Romawi, Islam dan Madinah sudah distigmakan sebagai kekuatan ideologis maupun
militer yang bisa membahayakan. Lalu Heraclius memandang serius ancaman ini,
barulah stigma itu benar-benar terealisasi dalam kenyataan. Tidak mungkin 100
ribu pasukan Romawi turun dengan ditambah 100 ribu kroni-kroninya, kalau tidak
benar-benar menganggap Islam sebagai pihak yang membahayakan. Bahkan bagi
ukuran di zaman itu, 200 ribu pasukan benar-benar jumlah yang amat besar. Tidak
mungkin Romawi mengerahkan kekuatan sebesar itu jika memandang Madinah sebelah
mata.
Stigma itu terus menggeliat dan terekspresikan pula
menjelang perang Tabuk. Perang Tabuk tahun 9 H seperti disebut dalam berbagai
kitab sirah, faktor penyebabnya adalah informasi yang beredar, bahwa Romawi
Byzantium sedang menggalang kekuatan lagi untuk menyerang langsung Madinah.
Demikian info akurat dan cepat yang diterima oleh Rasulullah ﷺ sebagai pemimpin Islam. Dari penggalangan kekuatan dan adanya
serangan dari Romawi ini membuktikan stigma negatif: bagi pembesar Romawi,
Islam merupakan ancaman. Stigma yang diciptakan persis kampanye Amerika Serikat
di zaman sekarang yakni “bahaya Islam” atau “Waspada Islamis” yang dibalut
dengan wacana ‘perang melawan terorisme’. Romawi sama seperti Amerika,
menganggap dirinya sendiri pahlawan, polisi dunia yang harus memberantas
“ancaman laten”.
Bedanya, dahulu kaum Muslimin siap menghadapi hal itu
dengan tenang untuk menang. Stigma dari pembesar Romawi itu sengaja dibentuk,
awalnya saya duga waktu Heraclius mengajak musyawarah para pembesar Romawi
tentang kenabian Rasulullah ﷺ SAW. Saat
itu para pembesar Romawi mengancam akan memberontak Heraclius dan
menggulingkannya dari kekuasaan. Tidak lama setelah Dihyah menyampaikan surat Rasulullah
ﷺ ke Heraclius dan perbincangan Abu Sufyan dengan kaisar Romawi
tersebut perihal kenabian Muhammad SAW. ‘Arkeologi wacana’ itu ternyata dapat
kita gali waktu Heraclius membacakan surat Rasulullah ﷺ ke para pembesar Romawi. Kira-kira setahun lebih sebelum
meletusnya perang Mu’tah, benturan pertama antara Islam dan Romawi.
Menarik juga kiranya jika stigma ini kita ungkap dari
teori kedustaan dalam semiotika Umberto Eco dalam Theori of Semiotics
(1976)-nya, adikarya mendiang profesor Universitas Bologna itu. Stigma dalam
hal kampanye perang melawan Islam antara Romawi dan Madinah harus dibaca
sebagai “tanda.” Tanda dalam pengandaian teori semiotika merupakan entitas
tiap-tiap kebudayaan, dikonstruksi oleh masyarakat manusia. Tanda bagi Eco bisa
difungsikan dengan benar atau pun bisa disalahfungsikan untuk menyampaikan
komunikasi yang sebenarnya tidak sesuai kenyataan. Eco mengakui bahwa semiotika
mempelajari sesuatu yang bisa digunakan untuk berdusta. Dusta bermakna suatu
citra atau gambaran yang tidak sesuai realita yang sebenarnya. Para pembesar
Romawi menjadikan citra dan gambaran Islam begitu buruk serta berbahaya bagi
mereka. Itu terbukti dengan efek stigma baik di perang Mu'tah maupun perang
Tabuk.
Stigma ini menjadi semacam dunia hiperrealitas,
karenanya ini semacam wacana yang direkayasa atau distorsi dari realitas
(kenyataan). Pengandaian hiperrealitas ini seperti diurai dalam Simulacra and
Simulations (1981) karya filsuf Perancis Jean Baudrillard, sesuatu tanda atau
subjek hiperrealitas adalah produk simulasi, yang ia menciptakan suatu
duplikasi/tiruan dari realitas. Namun, proses ini tidak terjadi secara alami
melainkan direkayasa atau dibuat. Oleh karena itu bagi para pembesar Romawi
representasi (gambaran) atas Islam sebagai suatu objek menggantikan Islam yang
sebenarnya. Wacana stigma tersebut menggantikan objek itu sendiri, dengan
diproduksinya stigma representasi atas Islam (objek) menjadi lebih penting
daripada Islam yang sebenarnya. Jika mereka fair, seharusnya mereka mengetahui
ajaran Islam dari Rasulullah ﷺ dan kaum
Muslimin, serta fakta-fakta kehidupan mereka. Maka hiperrealitas memainkan
hukumnya sendiri, yakni dibandingkan objek sebenarnya –dalam hal ini
Islam-, maka representasi atau gambaran atas Islam yang sudah distigma menjadi
lebih penting. Bahkan menjadi satu-satunya keyakinan yang harus diterima oleh
pembesar Romawi.
Maka eskalasi atau letupan konflik antara Islam dan
Romawi dari tahun 8 H hingga awal 11 H saja setidaknya terjadi 3-4 kali.
Semuanya konflik besar dan semuanya lantaran stigma dari para pembesar Romawi
tersebut, yang kemudian diekpresikan oleh Heraclius dalam kampanye perangnya
melawan Madinah. Wallahu’alam
