Archive Pages Design$type=blogging

Analisa
Berita

Menelisik Stigma di Balik Konflik Awal Islam-Romawi, Dari Foucauldian dan ‘Kedustaan’ Umberto Eco

Oleh : Ilham Martasyabana Muslimide Online - Situasi setelaah perjanjian Hudaibiyah akhir tahun enam hijriyah (H) membuat Madin...




Oleh : Ilham Martasyabana

MuslimideOnline-Situasi setelaah perjanjian Hudaibiyah akhir tahun enam hijriyah (H) membuat Madinah bisa berkonsentrasi untuk dakwah di utara. Rasulullah juga berencana agar dakwah Islam bisa diterima para raja dunia kala itu. Oleh sebab itu beliau hendak mengirimkan utusan-utusan yang akan mengirimkan surat dakwah beliau ke para raja. Sebelum itu, Rasulullah juga mengingatkan para sahabatnya tentang sejarah sahabat-sahabat Nabi Isa alaihissalam, di mana jika mereka diutus Nabi Isa ke kaum yang dekat mereka (sahabat Isa) senang, tetapi jika diutus ke kaum yang jauh dari negerinya mereka menerima dengan rasa enggan. Tentu Rasulullah tidak mau para sahabatnya mengulang hal yang sama seperti yang diterima putra Maryam binti Imran tersebut. 

Di lain pihak, Romawi dan Persia sedang ramai-ramainya berperang satu sama lain, sejak delapan tahun sebelum bi’tsah (kenabian Rasulullah ) atau bertepatan dengan tahun 602 M. Tentu benturan antar dua adidaya seperti Romawi dan Persia dampak serta pengaruhnya jauh lebih besar ketimbang peperangan antar suku layaknya di jazirah Arab. Bangsa Arab menjadi penonton saja ‘tubrukan’ dahsyat dari dua imperium raksasa di masanya itu.  

Pada dasarnya dua imperium ini sedang memperebutkan gelar adidaya sejati, selain memperebutkan hegemoni di Yaman, Mesir, Syam, Anatolia, Laut Mediterania hingga Laut Aegea. Bahkan kaum Quraisy sempat mengajak bertaruh tokoh kaum Muslimin Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk menentukan siapa yang menang dari kedua pertempuran tersebut. Perkiraan terjadinya peristiwa tersebut adalah di fase dakwah jahriyah Makkah, mungkin sekitar tahun 4-6 bi’tsah, atau bertepatan sekitar tahun 614-616 M. Saat Persia dan Romawi sedang mengalami puncak eskalasi. Persia sempat memenangkan pertempuran dan merebut banyak wilayah Romawi. Al-Qur’an dalam surat Ar-Rum ayat 2-4 mengisahkan kemenangan musyrik Persia atas Ahli Kitab Romawi Byzantium. Menurut riwayat Ath-Thabari dalam kitab tafsirnya Jami’ Al-Bayan dan disebutkan pula oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, sahabat Ibnu Mas’ud RA meriwayatkan ketika surat Ar-Rum ini turun. Pembesar Quraisy berkata kepada Abu Bakar bahwa Muhammad menjanjikan kemenangan Romawi setelah beberapa tahun. "Telah Dikalahkan bangsa Romawi. Di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang (atas Persia), dalam beberapa tahun lagi" (QS Ar-Rum: 2-4) Tentu saja kaum Quraisy menyangsikannya dan merasa sombong atas kemenangan imperium yang se-aqidah dengan mereka (Persia). Abu Bakar pun membalas pernyataan itu kepada para pembesar Quraisy bahwa tidak lama lagi Romawi akan betul-betul mengalahkan Persia. Dalam hal ini kaum Quraisy memang berpihak kepada Persia lantaran kesamaan keyakinan: sama-sama penyembah berhala, sedangkan kaum Muslimin lebih memihak Romawi karena Romawi adalah Ahli Kitab meskipun keduanya sama-sama kaum kafir. Persia kafir dalam kemusyrikan, sedangkan Romawi kafir Ahli Kitab. 

Quraisy makin senang lantaran tujuh tahun kemudian sejak dialognya dengan Abu Bakar, Romawi belum mampu pula mengalahkan Persia, maka saat bertemu Abu Bakar dan kaum Muslimin, Quraisy semakin pongah. Tetapi Rasulullah menyatakan bahwa mintalah penangguhan dua tahun lagi,  "beberapa tahun" yang dijanjikan ayat tersebut, menurut Rasulullah bermakna kurang dari 10 tahun. Oleh karena itu pengertian “beberapa tahun” adalah 2-9 tahun. Benar saja, dua tahun kemudian Romawi pun berhasil mengalahkan Persia saat genap 9 tahun setelah kekalahan Romawi tadi.

Dari uraian itu jika awalnya dialog tersebut terjadi pada sekitar 614-616 M, lalu perjanjian Hudaibiyah terjadi kurang lebih tiga belas tahun kemudian, berarti situasi politik dunia saat itu Romawi baru saja memenangkan pertempuran merebut Syam dari Persia. Di mana menurut riwayat sejarahnya, perayaan kemenangan itu ditandai dengan berjalan kakinya Kaisar Romawi Heraclius ke kota suci Yerussalem. Markas Heraclius di negeri Syam sendiri berada di kota Hims (Homs/Emessa). Maka wajar saja jika dalam riwayat-riwayat hadits dan sirah Nabawiyah, Heraclius yang semasa dengan Rasulullah sering kali berada di Syam bukan di Konstantinopel. Pengiriman surat dakwah Rasulullah ke Heraclius kelak akan merubah sejarah Islam maupun Romawi untuk selama-lamanya. Hal itu berawal dari stigma.  

Wacana dan kekuasaan dari perspektif Foucauldian itu bisa kita fungsikan ketika adanya stigma dari Romawi. Bermula ketika Rasulullah mengutus Al-Harits bin Umair Al-Azdi ke Bashrah daerah yang termasuk wilayah Romawi. Padahal kala itu Al-Harits berstatus sebagai utusan Madinah. Wacana “negara adidaya Kristen yang tidak boleh diganggu gugat” dalam wilayah Romawi sudah demikian berkuasa di Romawi. Bukan hanya di wilayah inti Romawi namun juga negeri-negeri satelitnya yang dikuasi Nasrani Arab loyalis Romawi. Bagi mereka pengutusan seorang Al-Harits ke wilayah mereka untuk mendakwahkan agama yang bertentangan dengan Kristen, itu adalah sebuah dosa besar. Bahkan pembunuhan ini menjadi satu-satunya pembunuhan utusan Rasulullah dalam rentang perjanjian Hudaibiyah hingga Fathul Makkah. Betapa pun zhalimnya seorang Kisra penguasa Persia, ia tidak sampai membunuh utusan Madinah. Sedangkan Syurahbil bin Amr Al-Ghassani pemimpin suku Ghassan, bawahan Romawi, nekat membunuh utusan Madinah. 

Nampaknya pembunuhan ini awalnya merupakan inisiatif Syurahbil pribadi kendati Romawi ternyata menyetujui tindakannya. Terbukti dengan adanya perang Mu’tah bulan Jumadil Awal tahun 8 H, di mana Romawi dan suku-suku Arab Nasrani membentuk pasukan raksasa untuk membunuh para mujahidin Islam. Padahal pengiriman 3000 mujahidin Islam itu adalah sebagai qishash atau hukuman atas terbunuhnya Al-Harits. Pembunuhan utusan ini bagi pihak Romawi dianggap sebagai ancaman laten yang merepresentasikan kekuatan ideologi baru, yakni kekuatan Islam. 

Utusan-utusan ke Romawi sebelumnya yakni Dihyah bin Khalifah Al-Kalbi ke Heraclius dan Syuja’ bin Wahb ke suku Ghassan. Nampaknya juga telah memancing kemarahan pembesar Kristen kala itu. Lagi pula bagi pemimpin Ghassan Al-Harits bin Abu Syamr Al-Ghassan dan setidaknya bagi para pembesar Romawi, Islam dan Madinah sudah distigmakan sebagai kekuatan ideologis maupun militer yang bisa membahayakan. Lalu Heraclius memandang serius ancaman ini, barulah stigma itu benar-benar terealisasi dalam kenyataan. Tidak mungkin 100 ribu pasukan Romawi turun dengan ditambah 100 ribu kroni-kroninya, kalau tidak benar-benar menganggap Islam sebagai pihak yang membahayakan. Bahkan bagi ukuran di zaman itu, 200 ribu pasukan benar-benar jumlah yang amat besar. Tidak mungkin Romawi mengerahkan kekuatan sebesar itu jika memandang Madinah sebelah mata. 

Stigma itu terus menggeliat dan terekspresikan pula menjelang perang Tabuk. Perang Tabuk tahun 9 H seperti disebut dalam berbagai kitab sirah, faktor penyebabnya adalah informasi yang beredar, bahwa Romawi Byzantium sedang menggalang kekuatan lagi untuk menyerang langsung Madinah. Demikian info akurat dan cepat yang diterima oleh Rasulullah sebagai pemimpin Islam. Dari penggalangan kekuatan dan adanya serangan dari Romawi ini membuktikan stigma negatif: bagi pembesar Romawi, Islam merupakan ancaman. Stigma yang diciptakan persis kampanye Amerika Serikat di zaman sekarang yakni “bahaya Islam” atau “Waspada Islamis” yang dibalut dengan wacana ‘perang melawan terorisme’. Romawi sama seperti Amerika, menganggap dirinya sendiri pahlawan, polisi dunia yang harus memberantas “ancaman laten”. 

Bedanya, dahulu kaum Muslimin siap menghadapi hal itu dengan tenang untuk menang. Stigma dari pembesar Romawi itu sengaja dibentuk, awalnya saya duga waktu Heraclius mengajak musyawarah para pembesar Romawi tentang kenabian Rasulullah SAW. Saat itu para pembesar Romawi mengancam akan memberontak Heraclius dan menggulingkannya dari kekuasaan. Tidak lama setelah Dihyah menyampaikan surat Rasulullah ke Heraclius dan perbincangan Abu Sufyan dengan kaisar Romawi tersebut perihal kenabian Muhammad SAW. ‘Arkeologi wacana’ itu ternyata dapat kita gali waktu Heraclius membacakan surat Rasulullah ke para pembesar Romawi. Kira-kira setahun lebih sebelum meletusnya perang Mu’tah, benturan pertama antara Islam dan Romawi. 

Menarik juga kiranya jika stigma ini kita ungkap dari teori kedustaan dalam semiotika Umberto Eco dalam Theori of Semiotics (1976)-nya, adikarya mendiang profesor Universitas Bologna itu. Stigma dalam hal kampanye perang melawan Islam antara Romawi dan Madinah harus dibaca sebagai “tanda.” Tanda dalam pengandaian teori semiotika merupakan entitas tiap-tiap kebudayaan, dikonstruksi oleh masyarakat manusia. Tanda bagi Eco bisa difungsikan dengan benar atau pun bisa disalahfungsikan untuk menyampaikan komunikasi yang sebenarnya tidak sesuai kenyataan. Eco mengakui bahwa semiotika mempelajari sesuatu yang bisa digunakan untuk berdusta. Dusta bermakna suatu citra atau gambaran yang tidak sesuai realita yang sebenarnya. Para pembesar Romawi menjadikan citra dan gambaran Islam begitu buruk serta berbahaya bagi mereka. Itu terbukti dengan efek stigma baik di perang Mu'tah maupun perang Tabuk.

Stigma ini menjadi semacam dunia hiperrealitas, karenanya ini semacam wacana yang direkayasa atau distorsi dari realitas (kenyataan). Pengandaian hiperrealitas ini seperti diurai dalam Simulacra and Simulations (1981) karya filsuf Perancis Jean Baudrillard, sesuatu tanda atau subjek hiperrealitas adalah produk simulasi, yang ia menciptakan suatu duplikasi/tiruan dari realitas. Namun, proses ini tidak terjadi secara alami melainkan direkayasa atau dibuat. Oleh karena itu bagi para pembesar Romawi representasi (gambaran) atas Islam sebagai suatu objek menggantikan Islam yang sebenarnya. Wacana stigma tersebut menggantikan objek itu sendiri, dengan diproduksinya stigma representasi atas Islam (objek) menjadi lebih penting daripada Islam yang sebenarnya. Jika mereka fair, seharusnya mereka mengetahui ajaran Islam dari Rasulullah dan kaum Muslimin, serta fakta-fakta kehidupan mereka. Maka hiperrealitas memainkan hukumnya sendiri, yakni  dibandingkan objek sebenarnya –dalam hal ini Islam-, maka representasi atau gambaran atas Islam yang sudah distigma menjadi lebih penting. Bahkan menjadi satu-satunya keyakinan yang harus diterima oleh pembesar Romawi.

Maka eskalasi atau letupan konflik antara Islam dan Romawi dari tahun 8 H hingga awal 11 H saja setidaknya terjadi 3-4 kali. Semuanya konflik besar dan semuanya lantaran stigma dari para pembesar Romawi tersebut, yang kemudian diekpresikan oleh Heraclius dalam kampanye perangnya melawan Madinah. Wallahu’alam

COMMENTS

Name

14 Agustus 25 Januari 30June Abu Treka Afrika Tengah Afsel AKP Aktivis Al Azhar Al Quds Al-Aqsha al-Azhar Alaa Alam Islami Aljazeera Amerika Amnesty Analisa aqidah Ariel Sharon Artikel AS Asad Banjir Baradei Bashar Asad Bayan Bendungan Bentrokan Berita Bom Cara Catatan Darurat Daud Oglu Deal of Century Delga Demonstran Demonstrasi Dokumen Dr. Uwais Duka Dunia Islam Editorial El Baradei El-Sisi Emir Qatar Erdagon Erdogan Fatah Fikrah Filsafat FSA Fulul Fundamental Gaza Gaza Under Attack Ghazwul Fikr Ghouta Gugatan Gulen Haji Hamas Headline Hijriah history Human Rights Watch Ibnu Khaldun IHH Ikhwan inspirasi Internasional Investigasi Irak Iran Iraq ISIS Islam Islamis Israel Istanbul Ittihadiyah Jared Kushner Jaulah Jausy al Islam Jenewa Jilbab Jum'at Furqan Kajian Kandi Kardasyah Kata-kata Kawasan Keamanan Kebiadaban Kebijakan kemanusiaan Kemenangan Kenangan Kerjasama Kesaksian Ki-Moon Klaim Koalisi Nasional Mesir Koalisi Suriah Kolom Konferensi Bahrain Konflik Kontemplasi Krisis KSA Kudeta Kudeta Mesir Kultwit kunjungan lapu lapu Lawan Kudeta Lebanon Lebaran Legitimasi Mahasiswa Mahkamah Internasional Malaysia Maroko Masisir Masjid Media Mempersiapkan Anak Sekolah Meninggal Mesir Metro Militer Mir'ah Misi Kemanusiaan Mubarak Mursi Mursyid 'Amm Muslim Sri Lanka Muslim Suriah Naquib Al-Attas Nasihat Natal News Niswah nusantara Olahrga Opini Ormas Islam Otoritas Otoritas Palestina pahlawan Palestina Panen Raya Parade Militer Pariwisata Pasca Pembantaian PBB Pemadaman Listrik Pembakaran Masjid Pembangkangan Pembantaian PembantaianRab'ah Pembubaran Pembubaran Massa Pembubaran Partai Pemerintahan pemikiran Pemilu pemuda Pemutusan Diplomatik Penangkapan Pendidikan Anak Pendudukan Zionis Pengadilan Pengepungan Penguasa Pengungsi Penjajah Penjara Penjualan Penyerangan Jamaah Perang Percaya Diri Perlawanan Pernyataan Perundingan Pilihan politik Prahara Kudeta Prancis Profesor Propaganda Kudeta Provokasi Proyek Qur'anuna Rabea Rabia Rafah Raja Muhammad Bin Salman Ramadan realitas Refleksi Remaja renungan Revolusi Rezim Rezim Suriah Rohingya RS. Midany Rusia Salahuddin Saudi Sejarah Sejarah Mesir Sejarah Palestina Modern Serangan Serangan Israel Serangkaian Bom Sikap Sinai sirah Slider Solidaritas Somalia Sri Lanka Sunnaturasulina Suriah Survey Syabab Syatir Syiria tadabbur tafakkur Tahun Ajaran Baru Tahun baru hijriah 1438 talmud Taman Kanak-kanak Tamarrid Tanah Air Tanah Palestina Taujih taurat Tausiyah Timteng Tokoh Tokoh Muslim Trik trump Tsaqafah Tulisan Hamka Tunisia Turki Ukhuwah ulama Ulasan Umrah US Usbu' Rahil Ust. Zulfi Akmal Ust.Irsyad Syafar Wacana Wanita Wawancara Wawasan Yahudi Yarmuk Yaser Arafat Yordania Zionis
false
ltr
item
MUSLIMIDE ONLINE: Menelisik Stigma di Balik Konflik Awal Islam-Romawi, Dari Foucauldian dan ‘Kedustaan’ Umberto Eco
Menelisik Stigma di Balik Konflik Awal Islam-Romawi, Dari Foucauldian dan ‘Kedustaan’ Umberto Eco
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhLIqd58lsZ1xthRwOLALdtli6xXnQuvz3FkSLIHVHiGwPKH5qJ_8Dwv-nnseMhOn1HYVPUrEbmvrtaTtL9k2VQ8K84E27i6IgUKinZnuZI7nn-uATOyNTTprDC4RgPeL5t_LQjcc-7N_Q/s320/Byzantine-Arab+attackers.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhLIqd58lsZ1xthRwOLALdtli6xXnQuvz3FkSLIHVHiGwPKH5qJ_8Dwv-nnseMhOn1HYVPUrEbmvrtaTtL9k2VQ8K84E27i6IgUKinZnuZI7nn-uATOyNTTprDC4RgPeL5t_LQjcc-7N_Q/s72-c/Byzantine-Arab+attackers.jpg
MUSLIMIDE ONLINE
http://muslimide.blogspot.com/2017/05/menelisik-stigma-di-balik-konflik-awal.html
http://muslimide.blogspot.com/
http://muslimide.blogspot.com/
http://muslimide.blogspot.com/2017/05/menelisik-stigma-di-balik-konflik-awal.html
true
865542636231413322
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago