Oleh : Abdan Syukri | @supersyukri Muslimide Online - Jika seandainya kita membacanya setiap hari jum’at, maka dalam sebulan kita ba...
Oleh : Abdan Syukri | @supersyukri
MuslimideOnline-Jika seandainya kita membacanya setiap hari jum’at, maka dalam sebulan kita baca sebanyak 4 kali dan dalam setahun 52 kali.
.
Setiap huruf Allah ganjar dengan 10 kebaikan, bayangkan berapa banyak pahala yang bisa didulang dengan Surat Al Kahfi. 10 ayat pertamanya juga merupakan benteng pelindung dari fitnah dajjal.
.
Pertanyaan berikutnya, sejauh mana kita mampu mengambil pelajaran dan nilai-nilai yang terkandung di dalam surat alkahfi tersebut ??
Secara garis besar ada beberapa kisah yang Al kahfi, dan setiap kisah tentu mengandung makna dan pesan yang ingin Allah sampaikan kepada orang-orang yang berakal.
.
Diantaranaya, kisah Ashabul Kahfi, kisah pemilik kebun, kisah Nabi Musa mencari guru, kisa Dzul Qarnain dll.
Sepenggal kalimat yang bercerita tentang “jiwa ksatria” yang dimiliki oleh Nabi Musa AS.
.
Ketika melihat Gurunya merusak kapal , Nabi Musa berkata, “apakah engkau ingin menenggelamkan orang-orang yang ada di sini ??”.
.
Nabi Musa tidak mengatakan “apakah engkau ingin menenggelamkanku atau kita ??”.
.
Begitulah orang-orang besar, Ia memikirkan orang lain sebelum memikirkan dirinya sendiri.
Jiwa seperti inilah yang diwarisi oleh para sahabat dari Rasulullah SAW ketika mereka berjuang, mereka tidak memikirkan maslahat pribadi mereka, namun yang mereka inginkan adalah agar manusia lainnya juga merasakan indahnya hidayah dan hidup di bawah naungan islam.
.
Namun hari ini, hanya orang-orang pilihan yang memiliki “jiwa ksatria” seperti halnya Nabi Musa dan para pejuang-pejuang setelahnya.
.
Sifat egois dan ingin menang sendiri lebih menguasai manusia-manusia zaman sekarang, termasuk mereka yang diberi amanah untuk mengurusi umat ini.
.
Padahal dalam suatu hadits Rasulullah SAW katakan bahwa tak akan beriman seseorang sebelum ia mencintai saudaranya seperti halnya ia mencintai dirinya sendiri.
Namun hari ini , hanya orang-orang pilihan yang memiliki “jiwa ksatria” seperti halnya Nabi Musa dan para pejuang-pejuang setelahnya.
.
Sifat egois dan ingin menang sendiri lebih menguasai manusia-manusia zaman sekarang, termasuk mereka yang diberi amanah untuk mengurusi umat ini.
.
Padahal dalam suatu hadits Rasulullah katakan bahwa tak akan beriman seseorang sebelum ia mencintai saudaranya seperti halnya ia mencintai dirinya sendiri.
Tak ada orang berakal yang menginginkan keburukan untuk dirinya, pasti semua yang ia inginkan dan ia harapkan adalah kebaikan, baik di dunia atau di akhirat.
.
Begitu juga orang Beriman, ia hanya menginginkan kebaikan untuk saudaranya, kebaikan dunia ataupun akhirat. Jika ada yang mengharapkan keburukan, berarti imannya sedang bermasalah.
Betapa indah hidup ini jika kita semuanya mampu memberikan yang terbaik untuk saudaranya, ketika ada rezeki saling berbagi, ditimpa musibah saling membantu.
