Oleh : Edgar Hamas | @edgarhamas Muslimide Online - Membahas tentang konflik dan problema umat Islam selalu mengesankan, namun mohon...
Oleh : Edgar Hamas | @edgarhamas
MuslimideOnline-Membahas tentang konflik dan problema umat Islam selalu mengesankan, namun mohon maaf; seringkali berujung pada kebosanan. Mengapa? Karena sebenarnya jutaan forum telah membahas ini, dan kesimpulan yang didapatkan nyaris selalu sama. Itu-itu saja. Solusinya bagus, benar, tepat. Masalahnya adalah; kapan kita mau beraksi?
Sepengalaman saya, biasanya akan ada yang bertanya; kapan dan bagaimana caranya kita memulai? Maka sebelum pertanyaan itu muncul, jawabannya hanya ada satu kalimat singkat; mulai sekarang, dari diri sendiri, dan “istiqomahlah”, nasihat Nabi. Jika ada yang ingin menanyakan, “bagaimana caranya istiqomah?” jawabannya juga akan selalu sama; perlu dilatih.
Sebenarnya semua pertanyaan-pertanyaan itu adalah tanya-jawab yang sangat template, sangat normatif. Kita ini berputar-putar dalam masalah yang itu-itu saja, tentang kiat, tentang tips dan trik. Padahal, anak-anak muda seusia kita di masa keemasan Islam sudah berpikir menaklukkan wilayah seluas 6 kali Indonesia dengan bekal sangat minimal.
Maka, sebelum membahas tentang problematika, saya ingin membeningkan sudut pandang kita; wahai anak-anak muda, jangan buat dirimu kerdil dengan memikirkan hal-hal kecil. Saatnya membaca lebih banyak, menjelajah lebih luas, berpikir lebih dalam.
“Sesungguhnya aku amat merindukan anak-anak muda yang tidak tidur lelap karena memikirkan masalah umat”, kata seorang Ulama besar abad XX.
Kamu adalah muslim, bagian paling kecil dari satu ikatan milyaran manusia muslimin sepanjang zaman. Umat nabi Muhammad yang legendaris, yang menjadi umat akhir zaman, namun akan menjadi penghuni surga awal-awal. Sebangga apakah dirimu dengan keislamanmu? Coba ukur dengan pertanyaan ini.
Apakah dengan kemuslimanmu membuatmu memiliki mimpi-mimpi tinggi yang visioner?
Apakah dengan kemuslimanmu membuatmu berdiri tegak saat menghadapi komunitas masyarakat dunia?
Apakah dengan kemuslimanmu membuatmu tak lagi butuh suntikan motivasi dan kata-kata quote cengeng yang mewajarkan situasi hidupmu nan penuh problem?
Menjadi muslim adalah satu anugerah. Kamu sebaris seiya sekata dengan Adam sang Ayah manusia, satu shaf dengan Nuh yang menyelamatkan peradaban dengan bahtera raksasa. Kamu satu narasi dengan para Nabi dan Rasul, manusia pilihan yang menunjukkan umat manusia pada jalan kebenaran.
Maka, selalu saja dalam sebuah panggung drama; tokoh utama pasti akan berhadapan dengan musuh-musuh yang beraneka. Baik manusia maupun setan, baik yang tersurat maupun tersirat. Baik yang nampak maupun tersembunyi dalam gelap. Mereka berusaha menghacurkan tokoh utama, namun pada saat yang sama, sebenarnya; mereka sudah tahu pemenangnya siapa.
Nah, jika dunia ini diumpamakan sebagai panggung aksi teatrikal, maka umat Islam adalah tokoh utamanya, sementara musuh-musuhnya adalah tokoh antagonis yang memang masuk dalam alur skenario lengkap yang sudah Allah narasikan. Diantaranya narasi ini, “orang-orang yahudi dan nasrani tidak akan rela kepadamu sebelum engkau mengikuti agama mereka.” (QS Al Baqarah 120)
Saya ingin sampaikan kepada teman-teman semuanya; jangan kira hanya generasi kitalah yang mendapatkan problematika ini, jangan mengira bahwa hanya zaman kitalah yang sangat sulit. Umat Islam ini sudah tua usianya; 1439 tahun lebih. Sudah pernah naik, sudah pernah turun. Naik ketika apa, dan turun ketika kenapa, sudah tercatat dalam lembar sejarah.
Namun ada satu problem yang memang hanya generasi kita yang mengalaminya; kita hidup tanpa kepemimpinan terpusat. Ini problem pertama, Selama umat Islam ada, 14 abad lamanya, 93 tahun terakhir inlah zaman gelap tanpa kepemimpinan.
Kedua, Umat Islam tidak yakin dengan agamanya. Sejak selesai PD I, umat Islam terpecah belah menjadi negara-negara kecil. Di tengah keberpecahan itu, setiap orang mulai ragu apakah Islam masih menjadi solusi? Akhirnya mereka mencari ke timur dan barat, memasukkan komunisme, sosialisme, kapitalisme. Hari ini, semua ideologi itu nyaris runtuh.
Ketiga, dunia Islam diperintah orang-orang zalim. Ini merupakan tanda kiamat yang sejak 1400 tahun lalu Rasulullah kabarkan sebagaimana diriwayatkan Abdullah bin Amr bin Ash ra, “Allah tidak akan mencabut ilmu secara langsung dari manusia, melainkan Dia akan mencabut ilmu dengan wafatnya Ulama. Hingga orang-orang akan mengangkat pemimpin yang bodoh. Mereka dijadikan tempat bertanya. Mereka sesat dan menyesatkan.” HR Bukhari Muslim
Keempat, akibat dari problem pertama, kedua dan ketiga, lahirlah problematika mengerikan ini; terjajahnya Palestina. Mengapa para Ulama menjadikan Palestina secara khusus sebagai tolak ukur problematika Umat Islam? Karena Palestina adalah akumulasi dari; sejarah, peristiwa, politik, kekuatan, dan masa depan umat Islam. Palestina telah dan akan menjadi latar mahapenting dalam episode sang “tokoh utama” menuju klimaks skenario sebelum panggung dunia akan berakhir.
Solusinya sebenarnya sangat banyak dan sudah beribu kitab tertulis tentangnya. Namun, jika diperas semua karya-karya Ulama itu, kita akan mendapatkan 3 solusi utama dalam kebangkitan dunia Islam; Aqidah, Tarbiyah (pendidikan) dan Wihdah (persatuan)
Akidah adalah harga mati untuk kita. Inilah hal yang hanya kita pemiliknya, tak dimiliki oleh umat manapun di muka bumi ini. Akidah yang murnilah yang menggembleng orang-orang Muhajirin menjadi manusia hebat yang berjuang bersama Rasulullah baik di Makkah hingga di Madinah.
Akidah yang murni, akan melahirkan sebuah pendidikan yang orientasinya adalah Rabbani, karena Allah. Mau menjadi apapun; geografer, businessman, klimatolog, arsitek, matematikawan, sosiolog, pustakawan; jika Al Quran adalah pondasi utamanya, maka akan melahirkan generasi yang hebat.
Dan ketiga, wihdah; persatuan. Corak umum Umat Islam baik nasional dan Internasional kurang lebih sama; sama-sama menghendaki persatuan, namun masih saja fanatik dengan golongan. Sama-sama ingin kebangkitan, namun masih saja banyak berteori tanpa aksi di lapangan. Solusi jangka pendeknya adalah; momentum, public enemy, musuh bersama yang terang benderang permusuhannya pada kita. Solusi jangka panjangnya adalah; kaderisasi geneasi baru yang melek perbedaan, melek kondisi umat dan bisa memetakan langkah.
